"Tak pernah terbayang kalau takdirmu berpetualang ke wilayah dan suku yang berbeda. Selamat berjuang, mutiaraku! Akhirnya, kupasrahkan engkau hanya kepada Sang Maha Rahman dan Rahim yang senantiasa menjagamu selamanya."
Kepingan pesan itu Mama
kirim melalui WhatsApp; seketika beragam rasa menyeruak dan berkelindan
dalam dada. Dasar Mama, selalu saja, setiap kata-katanya tak pernah absen
menyusupi palung jiwa. Untaian kata itu meluncur tepat saat sayup Magrib
menggema, menemani perjalananku di gerbong Kereta Api Mutiara Selatan menuju
Kota Pahlawan. Sebagai orang Sunda yang kerap dianggap jarang merantau, dari
pesan Mama yang panjangnya sudah menyerupai cerpen itu, aku tahu bahwa ia
merasa berat melepasku kuliah ke kota yang berjarak 789 kilometer dari rumah.
Namun, di balik barisan kata itu, aku merasakan betapa luar biasa kasih sayang
dan kebijaksanaan Mama. Ia mendidikku dengan cara yang paling tulus: berupaya
menitipkanku sepenuhnya ke dalam penjagaan-Nya.
Sore itu, aku hanya
diantar oleh kakakku sampai ke Stasiun Bandung. Meski begitu, aku sama sekali
tak merasa keberatan. Apalagi bawaanku tergolong ringkas, hanya sebuah koper
berukuran sedang dan sebuah tas punggung.
"Biar tidak repot
dan memberatkan di jalan, bawa barang secukupnya saja. Sisanya nanti Mama kirim
lewat JNE, supaya perjalananmu lebih nyaman," ucap Mama saat menemaniku
mengemas barang, dua hari sebelum keberangkatan.
Kantor JNE di Kota Kecil Kami
sumber:
Dokumentasi Pribadi, 2026
JNE, dan selalu JNE. Hanya itu yang Mama
tahu. Sejak aku kecil, karena hanya jasa ekspedisi itulah yang ada di kota
kecil kami, mereka telah menjadi andalan tempat kami mengirim segala rupa
barang dan dokumen. Rutinitas ini sebenarnya bermula sejak kakakku mondok di
Kota Kembang, Mama begitu rajin mengirimkan perbekalan untuknya. Lucunya, meski
sampai saat aku menuliskan cerita ini aku belum tahu apa kepanjangan dari JNE,
nama itu sudah telanjur melekat kuat dalam memori keluarga kami. Saking kuatnya, sampai saat ini kami terbiasa
menyebut jasa ekspedisi apa pun dengan sebutan "JNE". Mirip seperti
kebanyakan orang yang menyebut air mineral dalam kemasan dengan satu merek
tertentu karena sudah sangat ikonik. Di sudut kota kecil mana pun, mereka
selalu ada. Bahkan kini, saat aku sudah menikah dan menetap di pelosok desa
yang jauh dari hiruk-pikuk kota, hanya ada satu jasa ekspedisi yang eksis di
sini. Ya, apalagi kalau bukan JNE.
Energi Cinta Mama dan
Bapak Melalui Paket
Perjalanan meniti
pendidikan di bangku kuliah pun dimulai. Ternyata, merantau dan jauh dari
keluarga itu rasanya sungguh berbeda. Aku kehilangan kehangatan rumah; tak ada
lagi masakan dan olahan tangan mama yang diracik dengan penuh cinta. Namun,
barangkali memang begitulah kurikulum semesta-Nya bekerja. Terkadang kita perlu
menciptakan jarak agar tetap terpaut rindu, belajar lebih menghargai setiap
detik kebersamaan dan menjalani pendidikan untuk tegak berdiri "hanya"
di atas tumpuan-Nya, agar tak lagi selalu mengandalkan dan bergantung pada
orang tua—dan siapapun selain-Nya.
Selama berkuliah,
terutama di tahun pertama, paket-paket dari Mama dan Bapak datang silih
berganti. Isinya beragam: mulai dari tumpukan buku yang belum sempat terbawa, lauk
pauk pendamping makan, beberapa helai baju yang tertinggal, hingga alat tulis
beraneka warna yang Mama beli atas inisiatifnya sendiri—agar aku lebih
bersemangat belajar, katanya.
Kantor JNE di Kota Kecil Kami
Bulan-bulan berikutnya pun serupa. Berbagai
peralatan elektronik hingga motor matic kesayanganku tiba di perantauan
dengan selamat dan "bugar". Motor itu bernama Oim—panggilan spesialku
untuknya yang diambil dari ejaan terbalik merek aslinya. Semuanya tentu dikirim
lewat JNE. Lagi-lagi, Mama dan Bapak hanya percaya pada ekspedisi itu karena
sudah sejak lama menjadi bagian dari keseharian mereka. Oh ya, saat itulah aku
baru menyadari bahwa JNE juga bisa mengirimkan sepeda motor melalui layanan JNE
Cargo.
Setiap paket dari Mama
dan Bapak selalu kunantikan dengan antusias. Namun seingatku, dulu aku tidak
pernah merasa perlu bolak-balik mengecek nomor resi hanya untuk memastikan
posisi barang atau memaksanya agar cepat sampai. Aku selalu menikmati proses
menanti tanpa rasa terburu-buru. Bagiku, selalu ada kebahagiaan yang berbeda saat
mendapatkan kejutan tiba-tiba dari kurir yang menyerahkan paket dengan senyum
tulusnya.
Ironi Sistem
Ekspedisi Masa Kini
Saat ini, seiring
dengan pesatnya pertumbuhan lokapasar (marketplace), bertransaksi apa
pun melalui media daring (online) menjadi begitu mudah. Apa pun yang
kita inginkan bisa didapatkan hanya dengan sekali klik jempol. Kemudahan ini
tentu berbanding lurus dengan melonjaknya kebutuhan jasa pengiriman. Benar
saja, perusahaan ekspedisi mulai menjamur di berbagai daerah. Bahkan, beberapa
lokapasar raksasa sampai membangun sistem logistik mereka sendiri dengan model
mitra kurir.
Namun, semakin hari,
aku merasa ada makna yang hilang dari sebuah paket. Kini, momen menunggu paket
tak lagi terasa menyenangkan karena setiap ekspedisi seolah sedang berlomba
dalam pacuan waktu. Berbagai program ditawarkan, mulai dari gratis ongkos kirim
hingga garansi tepat waktu—semua demi menarik minat konsumen dan memacu kurir
agar lebih gesit. Awalnya memang terasa menyenangkan bagiku, namun semua
berubah ketika suatu hari aku bertanya pada seorang kurir.
"Pak, jika saya
klaim garansi pengiriman paket itu, nanti dendanya dipotong dari marketplace
atau kurirnya?" tanyaku pada seorang kurir yang mengantar paket dari
sebuah lokapasar tersohor.
"Itu dipotong
dari penghasilan kurirnya, Teh. Jadi kami didenda kalau tidak kirim
tepat waktu. Padahal, setiap hari kami harus mengantar ratusan paket,"
jawabnya getir.
Percakapan singkat itu
seketika mengubah persepsiku. Aku merasakan keresahan mendalam pada sistem yang
terasa tidak memanusiakan kurir. Kini aku paham mengapa sebagian kurir terpaksa
hanya melempar paket ke depan rumah, mungkin karena mereka sedang dikejar
waktu. Pernah suatu kali, seorang kurir menghubungiku, memohon izin untuk
memperbarui status "Paket Diterima" sebelum barangnya benar-benar
sampai, hanya demi menghindari denda perusahaan. Ada pula yang sampai
"mengemis" bintang agar rating-nya tetap terjaga demi bisa
terus bekerja.
Ironinya, banyak
perusahaan ekspedisi hanya menjadikan mereka "mitra semu"—dibayar per
paket dengan upah yang tak seberapa. Kondisi ini sangat kontras dengan sistem ekspedisi
lain seperti JNE yang sejak lama menetapkan kurir sebagai karyawan; memberikan
gaji yang layak sesuai UMK, tunjangan kerja, serta batasan jumlah paket yang
manusiawi. Begitulah semestinya perusahaan memperlakukan garda terdepannya.
Ternyata, kenyamanan gratis ongkir atau klaim garansi yang kita nikmati sering kali dibayar dengan pengorbanan para kurir. Bagaimana mungkin sebuah paket bisa diterima dengan penuh kebahagiaan, jika orang yang mengantarkannya saja tidak hidup dengan sejahtera?
Kembali Memaknai
Esensi Sebuah Paket
Paket melalui JNE
Menelisik gelapnya
sistem ekspedisi di era serba instan ini, aku merasa seolah sedang menyaksikan
kerja rodi gaya modern—sebuah sistem pasar eksploitatif yang enggan
memanusiakan manusia. Keresahan itulah yang akhirnya mengubah sudut pandangku
dalam berkonsumsi, terutama saat berbelanja di lokapasar. Kini, aku berusaha
untuk tidak lagi gegabah membeli barang, apalagi hanya untuk hal-hal remeh yang
sebenarnya bisa kudapatkan di warung dekat rumah. Bagiku, ini adalah upaya
kecil untuk "memanusiakan" para kurir, sekaligus bentuk kesadaran
bahwa nafsu belanja yang tak terkendali hanya akan memperberat jejak karbon
yang menyesaki bumi.
Aku ingin kembali
memaknai nilai sebuah paket, sebagaimana dulu saat Mama dan Bapak mengirimkannya
kepadaku. Kala itu, aku merasakan nikmatnya menanti tanpa terburu-buru, hingga
merasakan hangatnya sapaan kurir yang mengantar. Proses yang berjeda itu justru
membuat kebahagiaan terasa lebih nyata saat paket tiba, kita jadi lebih
menghargai apa yang diterima. Saat aku menerima paket dari Mama dan Bapak, yang
kuterima bukan sekadar benda materi, melainkan energi dan doa-doa tak kasat
mata yang menyertainya. Ini bukan sekadar urusan mengirim dan menerima,
melainkan tentang bagaimana kita memaknai proses: mengirim dengan kesadaran,
menanti dengan kenikmatan, dan menerima dengan keutuhan.
JNE: Kepanjangan
Tangan Pesan Kebahagiaan
Saat ini, aku memang
tidak selalu mengirimkan paket lewat JNE, karena mereka mungkin tidak selalu
menawarkan yang tercepat atau termurah. Namun, untuk paket-paket yang berharga
dan bernilai, aku hanya mempercayakannya pada mereka—sama seperti yang selalu
dilakukan Mama dan Bapak. Sebab menurutku, menghubungkan kebahagiaan tidak
selalu harus bicara soal kecepatan, tapi soal bagaimana kita menghargai ritme
agar pesan dan bahagia itu sampai dengan utuh. Sepanjang perjalanan hidupku,
JNE telah menjadi lebih dari sekadar perusahaan ekspedisi. Ia adalah
kepanjangan tangan yang menyampaikan cinta dan doa dari Mama Bapak yang tak
sanggup terwakili oleh kata-kata. Lewat paket-paket itu, aku bisa merasakan energi
mereka; dari aroma masakan mama, baju-baju yang beliau lipat dengan rapi,
buku-buku dengan coretan tangannya hingga motor yang telah disiapkannya dengan
telaten.
Kini, Mama dan Bapak memang
telah berpulang ke pelukan-Nya. Namun, "paket-paket" kehidupan tak
berhenti mengalir kepadaku melalui energi cinta yang selalu hadir membersamai
dan menyertai tanpa jeda, tak terbatas ruang dan waktu.
#JNE
#ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama
#JNEContentCompetition2026
#JNEBeragamCerita
0 Komentar