ESENSI MEMBANGUN RUMAH (Sebuah Refleksi dari Deep Talk Terakhir dengan Bapak)



 


“Rumah itu investasi. Kamu yakin mau bangun rumah dari bilik bambu?”  

Wajah Bapak cemas saat aku menyampaikan keinginanku untuk membangun rumah panggung dari bambu. Beliau buru-buru menyodorkan foto rumah bergaya minimalis modern yang ia unduh dari google. Meski tak menyampaikan secara langsung, aku tahu Bapak khawatir anaknya dianggap kuno. Sebab di mata standar sosial masyarakat kami, rumah bambu measih menjadi simbol kemiskinan.  

 “Tapi, rumah itu investasi buat anak-analmu juga di masa depan,” kata Bapak lagi.

Aku menjawab pelan, “Pak, rumah ini akan dibangun sesuai kebutuhan dan nilai kami saat ini. Bisa jadi mereka punya rumah impian sesuai selara dan nilai mereka, sama seperti perbedaan di antara kita sekarang.”

Bapak tertegun. “Iya juga ya... seperti rumah Mama yang sekarang gak ditinggali anak-anak.”

Itulah deep talk terakhir kami tentang nilai hidup.

Sebelum tiang rumah bambuku sempat berdiri, Bapak dipanggil kembali ke pelukan-Nya.

Sebuah kenyataan pahit: kini bukan hanya rumah Mama yang tidak kami tinggali, tapi juga rumah Bapak kosong tak berpenghuni.

Bukan karena kami tak mau menempatinya, tapi takdir mengharuskan kami berpijak di 'rumah' yang berbeda.Untuk dijual pun, tak semudah menjual gorengan bukan?

Menatap rumah orang tuaku yang kini sunyi, aku kembali bertanya: sebenarnya, apa esensii membangun rumah? Jika rumah ditujukan untuk warisan anak-cucu, bukankah kita justri sedang merenggut ruang bagi mereka untuk merajut mimpinya sendiri? Bukankah tak apa, jika kita bermimpi untuk diri sendiri dengan kebutuhan kita sekarang dan hadir utuh mengupayakannya untuk saat ini? 

Kini aku sadar, bahwa ketakutan Bapak bukan sekadar soal gengsi, tapi soal luka lama yang belum sembuh. Orang tua sering kali memaksakan standar duniawi kepada anaknya demi menebus rasa "tidak berharga" yang pernah mereka lalui. Luka ini juga yang menjadikan mereka merasa tidak layak untuk bermimpi, akhirnya selalu berlindung di balik "ini untuk anak, itu untuk anak". Itu yang terjadi pada Mama dan Bapak.

Ma, Pak… kalian begitu berharga untuk kami, kalian layak mendapatkan rumah terbaik di sisi-Nya.

Rabb…kami memohon berikanlah mereka kebahagiaan tertinggi di sisi-Mu. Alfatihah. 

Posting Komentar

0 Komentar